Cari Artikel

Sunday, December 31, 2017

Apa Kabar Ilmumu?

Ilmu itu bagaikan sinar ketika gelap...
Air yang sejuk ketika dahaga...
Dan ia bagaikan pohon rindang ditempat yang tandus.

Menuntut ilmu itu merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Dalam artian, yang tidak berusaha untuk menuntut ilmu maka akan mendapat ganjaran berupa dosa. Ilmu itu luas sekali, satu objek saja bisa beragam pembahasan, bermacam pendapat, dan bervariasi defenisinya.

Maka tak cukup satu sumber kamu mendapatkannya, tak cukup juga satu wadah kamu menelusurinya, carilah carilah, tuntutlah, tuntutlah. Islam pun juga mengatakan tuntutlah ilmu dari ayunan sampai keliang lahat. Maka menuntut dan membagi ilmu itu tak kenal usia, waktu, dan jarak. Sejauh apapun, sebanyak apapun, dan seberapa lamapun ilmu itu harus terus diperbaharui dan dialairi kedalam ruhani raga-raga yang seharusnya haus akan ilmu..
Setiap kita juga punya ranah masing-masing untuk berbagi ilmu yang sudah kita peroleh.

Jangan pernah merasa bahwa ilmu yang kita sampaikan tak berguna. Bisa jadi sekecil apapun itu, ternyata sangat berpengaruh atau bahkkan bisa merubah total hidup seseorang, tanpa sepengetahuanmu. Ambil dan bagi ilmumu, kapanpun, dimanapun,  kepada siapapun. Karena ilmu yang bermanfaat lah yang juga dapat mengalirkan terus pahala kita bahkan saat ruh sudah terpisah dari raga.

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ : إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ 

“Apabila manusia telah meninggal dunia maka terputuslah semua amalannya kecuali tiga amalan : shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakan dia.” [HR. Muslim]

Kita tak perlu menganggap hebat ketika kita sudah berbagi ilmu, tetapi anggaplah bahwa ilmu yang didapat masihlah sangat sedikit dari apa yang seharusnya kita ketahui dan pelajari. Maka dari itu, agar ilmu berkah dan bermanfaat, ketika kita hendak mendapatkan ilmu tersebut, dapatkanlah dengan cara yang baik, bukan dengan kecurangan dan kecerobohan. Karena sesuatu yang diperoleh dengan cara yang tak baik akan menghasilkan yang tak baik pula.

Coba tanyakan pada diri sendiri, untuk apa sebenarnya ilmu dibagi? Untuk ketenanaran? untuk kebanggaan? untuk pamer? Bukan ! berbagi ilmu adalah wujud kontribusi kita untuk menbangun peradaban. Kamu tau pohon kan? jika tak disemai dan sirimai dengan pupuk, maka akan layu dan tak berguna. Begitulah  fikiran kita, jika dibiarkan dan tak disirami dengan tasaqafah yang bermanfaat maka usanglah ia, mati.

Tugas kita tak cukup pada menyampaikan ilmu saja, tetapi juga harus diamalkan. Pastikan ketika kita hadir ke majelis ilmu, niatnya adalah memperoleh ilmu untuk diamalkan. Bagaimana mungkin mereka mendengar apa yang kita bicarakan sedangkan yang berbicara pun tak mengamalkan, jika begitu kita seolah dusta terhadap diri sendiri.
Keberkahan ilmu itu terletak pada pengamalannya lho. Jika ilmu berkah maka akan mudah diterima oleh  telinga masyarakat, juga mudah untuk diaplikasikan oleh mereka. Sebab apa?  Berkah ! Maukah kamu, sudah bersusah payah menyampaikan, atau bahkan sampai mengorbankan banyak hal, waktu, biaya, dan tenaga, tetapi ilmu tak sampai pada mereka.

Namun, jangan berkecil hati. Ketika  ilmu sudah disampaikan tetapi mereka belum mengamalkan bisa jadi itu juga faktor dari pendengar. Tapi yang harus kita tanamkan adalah memulainya dari sendiri ketika ingin berbagi yang kita punya.

Rugi sekali  rasanya, jika sudah berbab-bab dan  berjilid-jilid kita membaca, tapi hanya seujung pena saja yang kita peroleh, bahkan itupun tak bisa kita tulis, dan tak mengerti mereka baca. Pasti diri membatin, salahnya dimana ? yang sedikit saja aku tak bisa torehkan dengan lisan ataupun tulisan. Jawabannya yang juga ada pada diri sendiri, ketika kita menuntut ilmu sudahkah  kita letakkan Ridho Allah sebagai tujuannya? sudahkan kita ikhlaskan diri menerimanya? sudahkan kita serius mencarinya? dan sudahkan kita fahami dan resapi maknanya? Jika belum, itulah sebab ilmu yang kita peroleh tak berkah.
Oh Allah, engkaulah yang lebih mengerti akan kondisi diri ini, semua ilmu adalah milikmu, karuniakan hamba ilmu yang bermanfaat dan keteguhan untuk mengamalkannya ya Allah.
Berani untuk menuntut ilmu dan mengamalkannya kan?.


Embun Senja
Mahasiswi S1-Perbankan Syari’ah
Fakultas Ekonomi & Bisnis Islam UIN Ar-Raniry, Aceh - Indonesia

Sumber : www.fiqihmuslim.com

No comments:

TERNYATA FIR'UN MASIH HIDUP

Andai kita hidup pda zaman Fira'un, kira-kira kita jadi pengikut siapa, Fir'aun atau Nabi Musa?" Musaaa? Yakiiin? Tapi yang...